Bicara Otomotif
Home / Bicara Otomotif / Indonesia Belajar dari Malaysia Bangun Industri Mobil Nasional

Indonesia Belajar dari Malaysia Bangun Industri Mobil Nasional

Indonesia

Indonesia Belajar dari Malaysia Bangun Industri Mobil Nasional Indonesia mulai melihat pengalaman Malaysia sebagai salah satu rujukan dalam membangun industri mobil nasional. Pemerintah menilai perjalanan Proton dan Perodua menunjukkan bahwa menciptakan kendaraan nasional tidak dapat diselesaikan hanya dengan meluncurkan merek, mengganti emblem, kemudian mengandalkan komponen dari negara lain. Dibutuhkan proses panjang untuk menguasai desain, rekayasa, manufaktur, rantai pemasok, hingga pengembangan teknologi sendiri.

Pembahasan tersebut mengemuka ketika Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian Setia Diarta berbicara dalam rapat dengan Komisi VII DPR. Pemerintah saat ini menyiapkan proyek mobil nasional yang pelaksanaannya diberikan kepada PT Pindad. Produksi massal ditargetkan mulai berlangsung pada akhir 2028 dari fasilitas di Subang, Jawa Barat.

Menurut Setia, pengalaman Malaysia menunjukkan sebuah merek nasional memerlukan waktu panjang sebelum benar benar menguasai kemampuan manufaktur dan desain. Karena itu, pemerintah menilai proyek mobil nasional Indonesia tidak boleh dinilai hanya dari model pertama yang diluncurkan.

Malaysia Menjadi Contoh karena Memiliki Proton dan Perodua

Malaysia mempunyai dua merek kendaraan nasional yang sampai sekarang masih menguasai sebagian besar pasar domestik, yakni Proton dan Perodua. Keduanya tumbuh dengan pendekatan berbeda, tetapi sama sama memanfaatkan kemitraan dengan perusahaan otomotif asing untuk mempercepat penguasaan teknologi.

Proton didirikan pada 7 Mei 1983 setelah pemerintah Malaysia menyetujui National Car Project. Mobil pertamanya, Proton Saga, resmi diluncurkan pada 9 Juli 1985. Model awal tersebut menggunakan basis teknologi Mitsubishi melalui kerja sama antara HICOM, Mitsubishi Motors Corporation, dan Mitsubishi Corporation.

Xpeng Siapkan Produk Baru Jelang Akhir 2026, L03 Jadi Sorotan

Perodua hadir lebih belakangan. Perusahaan ini berdiri pada 1993 dan meluncurkan Kancil sebagai mobil pertama pada Agustus 1994. Sampai sekarang Perodua mempertahankan hubungan teknologi yang kuat dengan Daihatsu, termasuk dalam investasi, pelatihan pemasok, pengembangan produksi, serta transfer keahlian kepada tenaga Malaysia.

Dua perjalanan tersebut menjadi contoh bahwa ketergantungan kepada teknologi luar pada tahap awal bukan sesuatu yang otomatis membuat sebuah proyek nasional gagal. Persoalan utamanya adalah apakah kerja sama tersebut kemudian menghasilkan kemampuan lokal yang terus meningkat.

Kemenperin Soroti Proses Panjang Proton

Dalam rapat dengan DPR, Setia Diarta menggambarkan Proton sebagai contoh perusahaan yang pada tahap awal masih memakai teknologi Mitsubishi. Ia mengatakan Malaysia membutuhkan waktu puluhan tahun sebelum kemampuan desain dan manufakturnya semakin mandiri.

Ada satu hal yang perlu diluruskan dari sisi sejarah. Dalam keterangannya Setia menyebut 1991 ketika menjelaskan permulaan Proton. Catatan resmi Proton menunjukkan perusahaan sebenarnya berdiri pada 1983 dan Saga diluncurkan pada 1985. Tahun 1991 merupakan periode ketika pabrik machining komponen mesin dan perakitan transmisi Proton mulai beroperasi.

Perjalanan tersebut justru memperkuat pesan utama yang ingin disampaikan pemerintah Indonesia. Kemampuan otomotif tidak muncul setelah satu atau dua model. Malaysia membutuhkan tahapan panjang dari perakitan, pemesinan komponen, pengembangan pemasok, ekspor, pembangunan pusat rekayasa, hingga kepemilikan teknologi yang lebih luas.

Cek Izin Bus Sebelum Berangkat, Jangan Sampai Salah!

Pada 2025, Proton memperkenalkan generasi terbaru Saga yang dikembangkan menggunakan Advanced Modular Architecture. Perusahaan menyatakan platform tersebut mempunyai hak kekayaan intelektual yang dimiliki Proton dan mobil tersebut dirancang, direkayasa, serta divalidasi di Malaysia dengan dukungan teknis Geely.

Perubahan dari kendaraan berbasis teknologi Mitsubishi pada 1985 menuju platform yang dikembangkan dengan kemampuan lokal sekitar empat dekade kemudian menunjukkan betapa panjang proses membangun industri kendaraan nasional.

Menurut penulis, pelajaran terbesar dari Malaysia bukan sekadar keberhasilan memiliki merek sendiri. Nilai terpentingnya adalah kemampuan mempertahankan program selama puluhan tahun meskipun teknologi, mitra, dan persaingan terus berubah.

Perodua Membuktikan Kemitraan Asing Bisa Tetap Menguntungkan Industri Lokal

Perodua menawarkan pelajaran lain. Perusahaan tidak sepenuhnya memutus hubungan dengan mitra Jepang setelah berkembang menjadi merek besar. Sebaliknya, kerja sama dengan Daihatsu tetap digunakan untuk meningkatkan kemampuan produksi dan kualitas pemasok Malaysia.

Perodua secara resmi menyatakan pengembangan ekosistem otomotifnya melibatkan pemasok, dealer, serta mitra bisnis lokal. Melalui program Perodua Smart Build, perusahaan memanfaatkan dukungan Daihatsu untuk pelatihan teknis dan transfer teknologi kepada pemasok Malaysia.

Balita Terlempar Bus, Ternyata Gara-gara Ini!

Cara ini menunjukkan ukuran kemandirian industri tidak harus berarti seluruh baut, perangkat elektronik, platform, dan teknologi dikerjakan sendirian. Industri otomotif global sendiri sangat bergantung pada jaringan perusahaan lintas negara.

Hal yang lebih penting adalah seberapa banyak pekerjaan bernilai tinggi dilakukan di dalam negeri. Indonesia perlu mengejar penguasaan desain, pengujian kendaraan, perangkat lunak, mesin, baterai, elektronik, keselamatan, pencetakan komponen, serta penelitian material.

Kemitraan luar negeri dapat digunakan selama menghasilkan peningkatan kemampuan tersebut, bukan sekadar membuat Indonesia menjadi lokasi perakitan kendaraan yang dirancang sepenuhnya di negara lain.

Mobil Nasional Indonesia Disiapkan Pindad

Pemerintah telah memberikan mandat kepada PT Pindad untuk menjalankan program mobil nasional. Kementerian Perindustrian pada saat yang sama mendapat tugas menyiapkan kebijakan yang diperlukan untuk mendukung proyek tersebut.

Lokasi fasilitas produksi direncanakan berada di Subang, Jawa Barat. Hingga September 2026, proyek masih berada pada tahap penyiapan dan pembersihan lahan. Pembangunan fasilitas produksi direncanakan berlangsung pada 2027 sebelum produksi massal dimulai pada akhir 2028.

Target tersebut memberi waktu sekitar dua tahun untuk menyiapkan pabrik, pemasok, tenaga teknis, peralatan produksi, pengujian, homologasi, serta jaringan layanan.

Pindad sebenarnya tidak memulai dari nol. Perusahaan telah mempunyai pengalaman menghasilkan Maung MV3 dan beberapa kendaraan khusus lainnya. Ekosistem produksi Maung disebut melibatkan sekitar 60 perusahaan mitra dari dalam maupun luar negeri.

Pengalaman tersebut dapat menjadi fondasi. Namun, produksi kendaraan penumpang dalam jumlah besar memiliki tingkat kesulitan berbeda dibandingkan kendaraan khusus untuk institusi.

Mobil Nasional Tidak Hanya untuk Kendaraan Dinas

Pemerintah menyatakan mobil nasional yang diproduksi Pindad tidak hanya diarahkan untuk kementerian, lembaga, TNI, Polri, atau pemerintah daerah. Kendaraan tersebut juga direncanakan masuk pasar umum.

Masuk ke pasar konsumen membuat tantangannya jauh lebih besar. Pembeli kendaraan pribadi mempunyai banyak pilihan dari Toyota, Daihatsu, Honda, Mitsubishi, Suzuki, Hyundai, Wuling, BYD, Chery, dan berbagai merek lain.

Mereka akan membandingkan harga, konsumsi energi, kenyamanan, keselamatan, kualitas kabin, desain, biaya perawatan, harga suku cadang, jaringan bengkel, hingga nilai jual kembali.

Label mobil nasional mungkin menarik perhatian pada tahap peluncuran, tetapi tidak cukup menjadi alasan konsumen mengeluarkan ratusan juta rupiah. Produk harus mampu bersaing berdasarkan kualitas.

Hal yang sama pernah dialami Proton dan Perodua. Kedua merek Malaysia berkembang karena memiliki pasar domestik yang besar dan terus memperbaiki produknya, bukan hanya karena membawa identitas nasional.

Pasar Dalam Negeri Menjadi Modal Indonesia

Indonesia memiliki keunggulan berupa pasar kendaraan yang besar. Data Gaikindo menunjukkan penjualan wholesales sepanjang Januari sampai Juli 2026 mencapai 517.742 unit, naik 18,3 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Penjualan retail mencapai 511.514 unit.

Besarnya pasar memberi peluang bagi industri nasional memperoleh volume produksi yang cukup. Dalam industri otomotif, volume sangat penting karena biaya pengembangan kendaraan, cetakan, mesin produksi, laboratorium, perangkat lunak, serta fasilitas pengujian bernilai sangat besar.

Semakin sedikit mobil diproduksi, semakin besar biaya pengembangan yang harus ditanggung setiap unit.

Malaysia memberikan contoh mengenai keuntungan pasar domestik yang kuat. Pada tujuh bulan pertama 2026, merek nasional Proton dan Perodua menguasai sekitar 66 persen penjualan kendaraan Malaysia.

Pada paruh pertama 2026 saja, Perodua mencatat 158.295 unit, sementara Proton mencapai 98.010 unit. Besarnya volume membuat kedua perusahaan memiliki dasar yang kuat untuk menjaga pabrik, pemasok, tenaga rekayasa, dan jaringan penjualan.

Pemasok Lokal Tidak Boleh Hanya Mengejar Persentase

Pembicaraan mengenai mobil nasional biasanya langsung berhubungan dengan tingkat komponen dalam negeri. Persentase lokal memang penting, tetapi angka tersebut belum menceritakan seluruh kemampuan industri.

Komponen yang bernilai rendah dapat dibuat dalam jumlah besar di dalam negeri sementara sistem elektronik, perangkat lunak, motor listrik, cip, modul kontrol, baterai, atau teknologi keselamatan masih bergantung pada impor.

Indonesia perlu melihat bukan hanya berapa persen komponen lokal, tetapi komponen apa yang berhasil dikuasai.

Malaysia terus mendorong pendekatan serupa. Pabrik powertrain Proton di Tanjong Malim kini mampu merakit mesin konvensional, mesin khusus hybrid, transmisi, dedicated hybrid transmission, serta electric drive unit. Fasilitas tersebut mempunyai kapasitas desain hingga 240.000 mesin per tahun.

Sebanyak 16 pemasok terlibat pada fasilitas tersebut dan separuhnya merupakan perusahaan Malaysia. Lebih dari 50 pekerja Malaysia juga pernah menjalani pelatihan di China untuk membawa keahlian manufaktur kembali ke negaranya.

Inilah bagian yang dapat menjadi rujukan Indonesia. Investasi asing atau kemitraan teknologi harus diikuti peningkatan kemampuan pekerja dan pemasok nasional.

Teknologi Kendaraan Berubah Sangat Cepat

Indonesia memulai proyek mobil nasional ketika industri kendaraan sedang mengalami perubahan besar. Mobil tidak lagi hanya bersaing dalam urusan mesin, transmisi, dan desain bodi.

Kendaraan listrik membutuhkan baterai, inverter, motor, sistem manajemen termal, perangkat kontrol, serta perangkat lunak. Mobil hybrid membutuhkan integrasi yang jauh lebih rumit antara mesin pembakaran, motor listrik, baterai, dan transmisi.

Malaysia sendiri mulai memperluas kemampuan ke sektor tersebut. Proton mempunyai fasilitas kendaraan energi baru di Automotive High Tech Valley, Tanjong Malim. Pabrik tersebut dirancang menggunakan robotika, sistem produksi berbasis cloud, serta Industrial Internet of Things.

Pada Agustus 2026, Proton juga mulai memproduksi secara lokal dedicated hybrid transmission dan electric drive unit. Pemerintah Malaysia melihat langkah tersebut sebagai bagian dari penguatan kemampuan manufaktur kendaraan elektrifikasi di dalam negeri.

Indonesia perlu memutuskan teknologi mana yang akan menjadi kekuatan utama mobil nasional. Keputusan ini penting karena pabrik yang mulai produksi pada 2028 akan masuk pasar yang telah dipenuhi kendaraan bensin, hybrid, plug in hybrid, dan listrik baterai.

Desain Sendiri Menjadi Tahap yang Tidak Bisa Dilewati

Setia Diarta menekankan bahwa Proton dan Perodua membutuhkan waktu sebelum mampu melakukan desain lebih mandiri. Pemerintah Indonesia karena itu tidak menutup kemungkinan bahwa tahap pertama mobil nasional masih memakai sebagian teknologi atau bantuan pihak lain.

Pendekatan tersebut dapat diterima selama mempunyai peta peningkatan kemampuan yang jelas.

Tahap pertama dapat berisi perakitan dan penggunaan platform mitra. Tahap berikutnya meningkatkan kandungan komponen lokal. Setelah itu, tenaga Indonesia harus semakin terlibat dalam rekayasa bodi, suspensi, sistem elektronik, perangkat lunak, serta pengujian.

Pada tingkat lebih tinggi, perusahaan nasional harus mempunyai kekayaan intelektual dan platform yang dapat dikembangkan menjadi beberapa model.

Proton menunjukkan tahapan tersebut melalui Advanced Modular Architecture pada Saga terbaru. Perusahaan menyatakan platform itu dimiliki dan dikembangkan oleh Proton meskipun prosesnya tetap mendapat dukungan teknis dari Geely.

Kebijakan Pemerintah Harus Bertahan Lebih dari Satu Periode

Setia mengingatkan Indonesia pernah memiliki berbagai inisiatif kendaraan nasional yang kemudian menghilang. Ia berharap proyek kali ini tidak mengalami perjalanan serupa dan menegaskan pemerintah harus berada di belakang program secara konsisten.

Konsistensi menjadi pelajaran penting dari Malaysia. Proton telah berjalan sejak 1983, sedangkan Perodua berdiri sejak 1993. Selama periode tersebut, model bisnis, kepemilikan, teknologi, serta mitra mereka berubah berkali kali.

Proton bahkan memasuki babak baru setelah DRB HICOM menjalin kemitraan dengan Zhejiang Geely Holding Group pada 2017. Kerja sama tersebut membawa teknologi, platform, investasi, dan model baru yang kemudian membantu Proton memperkuat kembali penjualannya.

Artinya, mempertahankan industri nasional tidak selalu berarti mempertahankan struktur perusahaan yang sama tanpa perubahan. Strategi dapat disesuaikan selama tujuan membangun kemampuan manufaktur dan rekayasa nasional tetap dijaga.

Menurut penulis, tantangan Indonesia bukan membuat satu mobil dengan logo nasional. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan proyek tetap berjalan ketika pemerintahan, pejabat, tren kendaraan, dan kondisi ekonomi berubah.

Insentif Harus Mendorong Kemampuan Industri

Kementerian Perindustrian menyatakan pemerintah harus mendukung mobil nasional melalui regulasi dan kemungkinan insentif. Setia menilai dukungan dibutuhkan karena pengembangan kendaraan membutuhkan investasi besar dan waktu panjang.

Insentif dapat berbentuk dukungan penelitian, pembiayaan mesin, fasilitas perpajakan, pengembangan pemasok, pembelian pemerintah, atau bantuan pengujian.

Namun, insentif sebaiknya dikaitkan dengan hasil yang terukur. Perusahaan dapat diminta meningkatkan kandungan komponen bernilai tinggi, menambah jumlah tenaga rekayasa Indonesia, membuat pusat penelitian, memperoleh hak kekayaan intelektual, atau melakukan ekspor.

Dengan cara itu, bantuan negara tidak hanya menghasilkan kendaraan yang dirakit lokal, tetapi juga meningkatkan kemampuan industrinya.

Pengamat otomotif Bebin Djuana sebelumnya juga menilai program kendaraan nasional membutuhkan kebijakan yang konsisten. Investasi industri otomotif harus terus dilakukan karena model kendaraan mengalami pembaruan dan membutuhkan biaya pengembangan tambahan. Ia menyebut pengalaman Malaysia sebagai salah satu contoh yang dapat dipelajari Indonesia.

Pabrik Subang Menjadi Titik Awal yang Akan Diawasi

Pabrik Pindad di Subang menjadi proyek yang akan menentukan seberapa jauh rencana mobil nasional berubah menjadi kegiatan industri nyata. Saat ini pekerjaan masih berada pada tahap lahan, sementara pembangunan fasilitas direncanakan mulai berjalan pada 2027. Produksi massal ditargetkan pada akhir 2028.

Sebelum produksi dimulai, pemerintah dan Pindad masih perlu membuka banyak informasi. Publik belum memperoleh rincian lengkap mengenai kapasitas pabrik, investasi total, jenis kendaraan pertama, platform yang digunakan, pemasok utama, harga sasaran, serta volume produksi.

Informasi tentang mesin atau sistem penggerak juga akan menentukan arah proyek. Jika mobil pertama memakai tenaga listrik, kesiapan baterai dan rantai komponen elektronik menjadi penting. Apabila masih menggunakan mesin pembakaran atau hybrid, Indonesia perlu memastikan teknologi tersebut tidak membuat produk terlambat mengikuti perubahan pasar.

Jaringan penjualan dan layanan juga harus disiapkan sejak awal. Mobil nasional untuk masyarakat umum membutuhkan bengkel, stok komponen, teknisi, layanan garansi, pembiayaan, serta jaringan dealer di berbagai kota.

Malaysia membutuhkan puluhan tahun untuk membangun seluruh lapisan tersebut melalui Proton dan Perodua. Indonesia kini mempunyai kesempatan mempersingkat waktunya karena dapat mempelajari keberhasilan sekaligus kesalahan negara tetangga. Ukurannya bukan seberapa cepat logo nasional muncul di jalan, tetapi seberapa banyak teknologi, pekerjaan, pemasok, rekayasa, dan nilai produksi yang benar benar tumbuh di Indonesia.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share