Penyebab keputihan pada wanita tidak selalu berkaitan dengan penyakit. Cairan yang keluar dari vagina merupakan bagian dari sistem alami tubuh untuk menjaga kelembapan serta membantu membersihkan sel mati dan berbagai materi dari saluran reproduksi. Dalam kondisi normal, cairan biasanya berwarna bening atau putih, tidak menimbulkan bau menyengat, serta tidak disertai rasa gatal maupun nyeri.
Jumlah dan bentuk keputihan dapat berubah mengikuti siklus menstruasi, kehamilan, perubahan hormon, hingga aktivitas seksual. Namun, perhatian diperlukan apabila cairan berubah menjadi kuning, hijau atau abu abu, berbau kuat, menggumpal, jumlahnya jauh lebih banyak dari biasanya, atau disertai gatal, rasa terbakar, nyeri panggul dan keluhan ketika buang air kecil.
Perubahan tersebut dapat berhubungan dengan infeksi jamur, ketidakseimbangan bakteri vagina, infeksi menular seksual maupun peradangan pada organ reproduksi. Karena karakter setiap penyebab dapat terlihat serupa, pemeriksaan tenaga medis menjadi langkah penting ketika keputihan berubah secara mencolok atau berlangsung terus menerus.
Keputihan Normal Terjadi sebagai Bagian dari Sistem Alami Tubuh
Tidak setiap cairan yang keluar dari vagina perlu dianggap sebagai tanda penyakit. Vagina dan leher rahim secara alami menghasilkan cairan yang membantu mempertahankan lingkungan organ reproduksi. Jumlahnya berbeda pada setiap wanita dan dapat berubah pada periode tertentu.
Keputihan normal biasanya tampak bening hingga putih. Teksturnya bisa encer, sedikit lengket, atau lebih kental tergantung kondisi hormonal. Bau ringan juga dapat terjadi, tetapi biasanya tidak tajam atau sangat mengganggu.
Perubahan jumlah cairan sering terlihat menjelang ovulasi. Pada periode ketika sel telur dilepaskan, produksi lendir serviks meningkat akibat perubahan hormon. Cairan dapat menjadi lebih bening, licin dan elastis.
Kondisi tersebut merupakan proses fisiologis yang normal. Setelah periode ovulasi berlalu, tekstur cairan dapat kembali berubah mengikuti pergerakan hormon sepanjang siklus menstruasi.
Keputihan juga dapat bertambah ketika seorang wanita mengalami rangsangan seksual. Kelenjar di sekitar vagina menghasilkan cairan sebagai pelumas alami sehingga vagina menjadi lebih lembap.
Menurut penulis, salah satu hal terpenting ketika membicarakan keputihan adalah memahami pola tubuh sendiri. Perubahan yang sangat berbeda dari kebiasaan sehari hari sering kali lebih penting diperhatikan dibandingkan sekadar banyak atau sedikitnya cairan.
Perubahan Hormon Bisa Membuat Cairan Vagina Lebih Banyak
Hormon memiliki hubungan erat dengan produksi cairan vagina. Karena itu, jumlah keputihan dapat berubah sepanjang perjalanan kehidupan seorang wanita, mulai dari masa pubertas, periode reproduktif, kehamilan hingga mendekati menopause.
Estrogen menjadi salah satu hormon yang berperan dalam perubahan jaringan vagina dan produksi lendir serviks. Ketika kadar hormon berfluktuasi sepanjang siklus menstruasi, bentuk serta jumlah cairan yang terlihat pada pakaian dalam juga dapat berbeda.
Menjelang ovulasi, sebagian wanita mendapati cairan yang jauh lebih banyak dibandingkan hari biasa. Sementara setelah ovulasi, cairan dapat terlihat lebih kental.
Penggunaan kontrasepsi hormonal juga dapat membuat pola cairan vagina mengalami perubahan pada sebagian wanita. Respons setiap tubuh tidak selalu sama sehingga perubahan perlu dinilai bersama gejala lain yang menyertainya.
Keputihan yang hanya berubah jumlah tetapi tetap bening atau putih, tidak berbau tajam, tidak gatal dan tidak menimbulkan nyeri umumnya memiliki karakter berbeda dengan cairan akibat infeksi.
Kehamilan Menjadi Salah Satu Penyebab Keputihan Bertambah
Wanita hamil sering mengalami peningkatan cairan vagina. Perubahan hormon dan kondisi saluran reproduksi selama kehamilan membuat produksi cairan dapat lebih banyak dibandingkan sebelum hamil.
Keputihan normal selama kehamilan umumnya berwarna bening atau putih susu dengan karakter yang relatif encer serta tidak memiliki bau menyengat. Cairan tersebut merupakan bagian dari perubahan tubuh selama kehamilan.
Jumlahnya bahkan dapat semakin meningkat ketika usia kehamilan bertambah. Mendekati waktu persalinan, seorang ibu juga dapat melihat lendir yang lebih kental dan terkadang mengandung sedikit warna merah muda.
Meski demikian, perubahan keputihan pada ibu hamil tetap perlu diperhatikan. Cairan berbau tidak sedap, berubah menjadi hijau atau kuning, disertai gatal, nyeri, rasa terbakar maupun perdarahan perlu diperiksa.
Ibu hamil sebaiknya tidak menggunakan obat antijamur atau produk vaginal secara sembarangan ketika muncul keluhan. Penentuan penyebab diperlukan terlebih dahulu karena tidak semua perubahan cairan vagina disebabkan infeksi jamur.
Bacterial Vaginosis Sering Menyebabkan Keputihan Berbau Menyengat
Bacterial vaginosis atau BV merupakan salah satu penyebab umum perubahan keputihan. Kondisi ini terjadi ketika keseimbangan bakteri yang secara alami hidup di vagina berubah sehingga kelompok bakteri tertentu tumbuh lebih dominan.
Keputihan akibat bacterial vaginosis sering memiliki karakter encer dengan warna putih keabu abuan. Salah satu ciri yang cukup dikenal adalah munculnya bau kuat seperti amis, yang pada sebagian wanita terasa lebih jelas setelah berhubungan seksual.
BV tidak selalu menyebabkan rasa gatal hebat seperti infeksi jamur. Bahkan sebagian wanita dapat mengalaminya tanpa keluhan yang mencolok selain perubahan aroma atau karakter cairan.
Kondisi tersebut tidak digolongkan sama seperti infeksi menular seksual, tetapi aktivitas seksual dapat berkaitan dengan terjadinya perubahan keseimbangan bakteri vagina pada sebagian wanita.
Penggunaan cairan pembersih vagina bagian dalam juga dapat mengganggu keseimbangan mikroorganisme alami. Karena vagina memiliki mekanisme pembersihan sendiri, membersihkan bagian dalam vagina dengan cairan tertentu justru dapat mengubah lingkungan yang sebelumnya seimbang.
Infeksi Jamur Candida Membuat Keputihan Lebih Kental
Infeksi jamur vagina menjadi penyebab keputihan yang sangat sering dikenal masyarakat. Kondisi ini paling sering berkaitan dengan pertumbuhan berlebihan jamur Candida yang sebenarnya dapat ditemukan dalam jumlah tertentu tanpa menimbulkan keluhan.
Ketika keseimbangan lingkungan vagina berubah, Candida dapat berkembang secara berlebihan. Keluhan yang muncul biasanya tidak hanya berupa perubahan cairan.
Keputihan akibat kandidiasis vagina sering berwarna putih dan terlihat kental atau menggumpal. Sebagian orang menggambarkan bentuknya menyerupai susu yang menggumpal. Bau yang sangat kuat justru bukan karakter utama infeksi Candida.
Keluhan lain yang sering menyertai adalah rasa gatal cukup berat di sekitar vagina dan vulva, kemerahan, pembengkakan, rasa terbakar serta ketidaknyamanan saat buang air kecil atau berhubungan seksual.
Penggunaan antibiotik tertentu dapat meningkatkan kemungkinan pertumbuhan jamur karena obat tersebut dapat memengaruhi bakteri yang biasanya menjaga keseimbangan mikroorganisme vagina.
Kehamilan, perubahan hormonal dan sejumlah kondisi kesehatan juga dapat membuat sebagian wanita lebih rentan mengalami kandidiasis. Diagnosis tetap diperlukan terutama ketika keluhan terjadi berulang atau pengobatan yang sebelumnya digunakan tidak memberikan perbaikan.
Trikomoniasis Bisa Memicu Cairan Kuning atau Kehijauan
Tidak semua keputihan abnormal berasal dari perubahan bakteri alami atau jamur. Trikomoniasis merupakan infeksi menular seksual yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis.
Pada wanita yang menunjukkan gejala, cairan vagina dapat bertambah dan terlihat lebih encer. Warnanya bisa bening, putih, kekuningan atau kehijauan. Bau yang tidak biasa juga dapat muncul.
Infeksi ini dapat disertai rasa gatal, kemerahan, nyeri atau iritasi pada area genital. Sebagian wanita juga merasakan ketidaknyamanan ketika buang air kecil atau saat melakukan hubungan seksual.
Masalahnya, tidak semua orang yang terinfeksi mengalami gejala jelas. Seseorang dapat memiliki infeksi tanpa menyadarinya sehingga pemeriksaan medis memiliki peranan penting apabila terdapat faktor risiko atau pasangan diketahui mengalami infeksi menular seksual.
Trikomoniasis membutuhkan pengobatan yang sesuai. Pengobatan sendiri menggunakan obat jamur tidak dapat menyelesaikan infeksi tersebut karena penyebabnya berbeda.
Gonore dan Klamidia Juga Dapat Ditandai Keputihan Tidak Biasa
Infeksi menular seksual seperti gonore dan klamidia dapat menimbulkan perubahan cairan dari vagina, terutama ketika infeksi menyebabkan peradangan pada leher rahim atau serviks.
Sebagian penderita dapat mengalami keputihan yang berbeda dari biasanya, nyeri ketika buang air kecil, perdarahan di luar jadwal menstruasi, perdarahan setelah hubungan seksual atau rasa tidak nyaman pada bagian bawah perut.
Namun, klamidia dan gonore dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas. Tidak adanya keluhan tidak selalu berarti seseorang terbebas dari infeksi.
Keadaan tersebut menjadi alasan pemeriksaan infeksi menular seksual penting bagi orang dengan faktor risiko tertentu, termasuk memiliki pasangan baru atau melakukan hubungan seksual tanpa pelindung dengan pasangan yang status kesehatannya belum diketahui.
Pemeriksaan laboratorium dapat membantu menentukan penyebab secara lebih akurat. Pengobatan harus disesuaikan dengan jenis infeksi sehingga penggunaan obat tanpa pemeriksaan sebaiknya dihindari.
Kebiasaan Membersihkan Vagina Berlebihan Bisa Memicu Iritasi
Keinginan menjaga kebersihan area intim terkadang membuat seseorang menggunakan terlalu banyak produk. Sabun berpewangi, cairan pembersih bagian dalam vagina, semprotan kewanitaan, maupun produk dengan bahan tertentu dapat memicu iritasi pada orang yang sensitif.
Jaringan di sekitar vulva dan vagina tergolong sensitif. Paparan bahan iritan dapat menyebabkan rasa terbakar, gatal, kemerahan dan perubahan cairan vagina.
Membersihkan vagina bagian dalam tidak diperlukan karena organ tersebut memiliki mekanisme alami untuk mempertahankan kebersihannya. Area luar atau vulva dapat dibersihkan secara lembut menggunakan air. Produk yang menyebabkan iritasi sebaiknya dihentikan.
Celana yang sangat ketat dan kondisi area genital yang terlalu lama lembap juga dapat menambah rasa tidak nyaman. Mengganti pakaian yang basah setelah berolahraga atau berenang membantu menjaga area luar tetap kering.
Produk yang digunakan ketika menstruasi juga perlu diganti secara teratur. Kebersihan tangan sebelum dan sesudah mengganti pembalut, tampon atau produk menstruasi lainnya tetap perlu diperhatikan.
Benda Asing di Vagina Dapat Menimbulkan Cairan dan Bau Tidak Sedap
Keputihan dengan bau sangat kuat terkadang dapat muncul akibat benda asing yang tertinggal di dalam vagina. Salah satu situasi yang dapat terjadi pada pengguna tampon adalah tampon terlupa dan tetap berada di vagina lebih lama dari seharusnya.
Benda asing dapat menyebabkan iritasi serta perubahan cairan yang cukup mencolok. Bau tidak sedap menjadi salah satu tanda yang dapat muncul.
Kondisi tersebut memerlukan perhatian, terutama apabila seseorang merasa ada produk menstruasi yang mungkin belum dikeluarkan. Jangan memasukkan benda lain untuk mencoba mengambilnya jika sulit dijangkau.
Pemeriksaan tenaga kesehatan dapat dilakukan apabila benda tidak dapat dikeluarkan dengan mudah atau muncul nyeri, demam, bau kuat maupun keluhan lainnya.
Menopause Dapat Mengubah Kondisi Vagina
Memasuki menopause, kadar estrogen mengalami penurunan. Perubahan tersebut dapat membuat jaringan vagina menjadi lebih tipis, kering dan mudah mengalami iritasi.
Sebagian wanita mengalami keluhan berupa vagina terasa kering, perih, gatal atau terasa tidak nyaman ketika berhubungan seksual. Perubahan lingkungan vagina juga dapat membuat keluhan pada area genital lebih mudah muncul.
Berbeda dari keputihan normal pada usia reproduktif yang dapat meningkat ketika estrogen tinggi, wanita menopause justru sering menghadapi masalah kekeringan vagina. Meski demikian, iritasi atau peradangan dapat menimbulkan cairan abnormal pada sebagian orang.
Keputihan baru setelah menopause perlu diperhatikan, terutama apabila bercampur darah, berbau kuat atau disertai nyeri. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan penyebab dan menentukan apakah perubahan tersebut berhubungan dengan jaringan vagina, infeksi atau gangguan lain.
Keputihan Disertai Nyeri Panggul Memerlukan Perhatian Lebih Serius
Keputihan menjadi lebih penting untuk diperiksa apabila muncul bersama nyeri pada perut bagian bawah atau panggul. Kombinasi tersebut dapat ditemukan pada infeksi organ reproduksi seperti penyakit radang panggul.
Penyakit radang panggul merupakan infeksi pada organ reproduksi wanita yang dapat melibatkan rahim, saluran telur dan jaringan sekitarnya. Beberapa kasus berhubungan dengan infeksi menular seksual seperti klamidia atau gonore.
Keluhannya dapat berupa nyeri panggul, cairan vagina yang berbeda dari biasanya, demam, perdarahan tidak teratur, rasa sakit ketika berhubungan seksual atau rasa nyeri ketika buang air kecil. Tingkat keluhan dapat berbeda pada setiap orang.
Apabila nyeri panggul terasa berat, disertai demam tinggi, muntah, pingsan, kondisi tubuh sangat lemah atau kemungkinan sedang hamil, pertolongan medis perlu dicari segera.
Warna dan Aroma Keputihan Bisa Memberikan Petunjuk Awal
Karakter cairan vagina dapat membantu memberikan petunjuk awal, tetapi warna saja tidak cukup untuk menetapkan diagnosis. Dokter biasanya mempertimbangkan tekstur, aroma, jumlah, gejala penyerta, riwayat kesehatan dan hasil pemeriksaan.
Keputihan bening atau putih tanpa bau kuat dan tanpa keluhan lain sering berkaitan dengan kondisi fisiologis. Cairan putih sangat kental dan menggumpal disertai gatal lebih sering ditemukan pada kandidiasis.
Cairan tipis berwarna putih atau abu abu dengan bau amis dapat ditemukan pada bacterial vaginosis. Sementara cairan kekuningan atau kehijauan yang berbau dan disertai iritasi dapat ditemukan pada trikomoniasis atau infeksi lainnya.
Keputihan yang bercampur darah di luar periode menstruasi perlu mendapat perhatian. Penyebabnya beragam, mulai dari iritasi, perubahan pada leher rahim, infeksi hingga gangguan lain yang membutuhkan pemeriksaan.
Karena berbagai kondisi dapat menghasilkan ciri yang mirip, mencoba menentukan penyakit hanya berdasarkan warna cairan dapat menyebabkan kesalahan dalam memilih pengobatan.
Menurut penulis, warna keputihan sebaiknya diperlakukan sebagai petunjuk awal, bukan sebagai dasar untuk membeli obat sendiri. Keluhan yang terlihat sederhana dapat mempunyai penyebab berbeda dan membutuhkan penanganan berbeda pula.
Keputihan Berulang Tidak Sebaiknya Terus Diobati Sendiri
Sebagian wanita membeli obat antijamur ketika mengalami keputihan karena menganggap semua keputihan disebabkan Candida. Padahal bacterial vaginosis, trikomoniasis, infeksi pada leher rahim dan iritasi dapat menghasilkan keluhan yang menyerupai infeksi jamur.
Penggunaan obat yang tidak sesuai dapat membuat keluhan tetap berlangsung sekaligus menunda pemeriksaan penyebab sebenarnya. Jika keputihan terus berulang, berubah karakter, atau tidak membaik setelah terapi yang sebelumnya diberikan tenaga medis, evaluasi kembali lebih tepat dilakukan.
Dokter dapat menanyakan waktu munculnya gejala, siklus menstruasi, obat yang sedang digunakan, aktivitas seksual dan keluhan penyerta. Pemeriksaan area genital serta pengambilan sampel cairan dapat dilakukan bila diperlukan.
Pemeriksaan lebih penting apabila keputihan disertai demam, nyeri panggul, luka pada area genital, perdarahan tidak biasa, rasa sakit ketika berhubungan seksual, nyeri saat buang air kecil atau muncul selama kehamilan.
Keputihan yang pertama kali muncul dengan karakter sangat berbeda juga layak diperiksakan. Dengan mengetahui penyebabnya secara tepat, pengobatan dapat ditujukan kepada kondisi yang sebenarnya, baik berupa ketidakseimbangan bakteri, infeksi jamur, infeksi menular seksual, iritasi maupun gangguan pada organ reproduksi.


Comment